Selasa, 12 Januari 2010

Pasar monopolistik dan Pasar Oligopoli

Oleh : Hilman Fauzi Nugraha

PASAR PERSAINGAN MONOPOLISTIK

Teori Pasar persaingan monopolistik (monopolisic competition) dikembangkan karena ketidak puasan terhada dya analisis model persaingn sempurna (perfect competition) maupun monopoli.

Struktur pasar persaingan monopolistuk hampir sama dengan persaingan sempurna. Didalam Industri terdapat banyak perusahaan yang bebas keluar masuk. Namun produk yang di hasilkan tidak homogen, melainkan terdiferensiasi (differentiated product). Namun perbedaan barang antara satu poduk (merek) dengan produk (merek) yang lain tidak terlalu besar. Diferensiasi ini mendorong perusahaan untuk melakukan persaingan non harga. Walaupun demikian output yang dihasilkan sangat mungkin saling menjadi substitusi. Perusahaan memiliki kemampuan monopoli yang relatif terbatas/kecil. Bermerek sutera

1. Karakteristik Pasar Persaingan Monopolistik

Tiga asumsi dasar persaingan monopolistik adalah:

a) Produk yang terdiferensiasi (differentiated product)

b) Jumlah perusahaan banyak dalam industri (large number of firms)

c) Bebas masuk dan keluar pasar (free entry and exit)

a. Produk yang terdiferensiasi

Yang dimaksud dengan produk terdifferensiasi alah produk dapat dibedakan oleh konsumen dengan melihat siapa produsennya. Jika dalam pasar persaingan sempurna konsumen membeli barang tanpa perlu membedakan siapa produsen, dalam persaingan monopolistik yang menjadi pertimbangan adalah siapa produsennya. Barang-barang tersebut dapat diperbedakan oleh kualitas barangnya,model,bentuk,warna,bahkan oleh kemasan, merek, dan pelayanannya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita selau memiliki pilihan yang tetap untuk Produk-produk sabun mandi, sulit untuk pindah ke merek lain. Dia dapat membedakan poduk sabun mandi kesukaannya dari produk perusahaan yang lain. Hal ini menyebabkan perusahaan memiliki daya monopoli, walau terbatas.

b. Jumlah produsen Banyak dalam indusri (large number of firms)

Jumlah perusahaan (produsen) dalam pasar persaingan monopolistik banyak. Di indonesia dapat diihat dari begitu banaknya merek pakaian, dan sepatu. Banyaknya perusahhann menyebabkan keputusan perusahaan tentang harga dan output tidak perlu harus memperhitungkan reaksi perusahaan lain dalam industri (independence decision of price and output), karena setiap perusahaan menghadapi kurva permintaannya masing-masing.

c. Bebas Masuk dan Keluar (Free Entry and Exit)

Laba super normal yang dinikmati perusahaan (existing firm) mengundang perusahaan pendatang untuk memasuki industri. Jika mereka mampu bertahan, dalam jangka panjang dapat mengalahkan perusahan yang lain. Tetapi jika kalah merek harus keluar, agar kerugian tidak menjadi lebih besar. Sama halnya dalam pasar persaingan sempurna, dalam pasar persaingan monopolistik proses masuk-keluar akan terhenti bila semua perusahaan hanya memperoleh laba normal.

2. Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Pendek

Perusahaan mencapai keseimbangan dalam jangka pendek dan panjang. Dalam jangka pendek perusahaan dapat menikmati laba supernormal. Dalam jangka panjang perusahaan hanya menikmati laba normal.

Keseimbangan jangka pendek perusahaan tercapai bila MR=MC. Karena memiliki daya monopoli, walau terbatas, kondisi keseimbangan perusahaan yang bergerak dalam pasar persaingan monopolistik sama dengan perusahaan yang bergerak dalam pasar monopoli (Diagram 10.2)

Diagram 10.2

Keseimbangan jangkapendek

Perusahaan dalam pasar persaingan monopolistik


MC

AC

D

MR

Diagram 10.2 menunjukkan perusahaan mencapai laba maksimum pada saat MR=MC dititik E. Sama halnya dengan perusahaan monoplis, harga jual lebih besar dari biaya marjinal (P>MC). Tetapi kemampuan eksploitasi laba relatif terbatas,

3. Pasar persaingan monopolistik dan efisiensi ekonomi

Laba super normal yang dinikmati perusahaan (Diagram10.2) mengundang perusahaan pendatang memasuki industri. Masuknya pendatang memberikan dua kemungkinan terhadap permintaan perusahaan lama. Yang pertama, pelanggan makin setia, secara grafis terlihat dari kurva permintaan jangka panjang lebih curam dari jangka pendek (Diagram10.3.a). Atau pelanggan makin bersifat memilih, dimana permintaan jangka panjang menjadi landai dibanding jangka pendek(Diagram 10.3b). bagaimanapun pengauhnya, perusahaan hanya akan dapat bertahan dalam jangka panjang jika mampu menikmati laba normal, pada saat harga jual sama dengan biaya rata-rata (P=AC).

Dalam diagram 10.3 keseimbangan tersebut terjadi di titik A (Diagram10.3.a) atau (Diagram 10.3.b)

Diagram 10.3

Keseimbangan jangka panjang

Perusahaan dalam pasar persaingan Monopolistik

RP RP

MC MC


AC

AC

D

D MR

MR

Kuantitas Kuantitas

4. Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Panjang

Dibandingkan dengan pasar mononopoli, persaingan monopolistik masih lebih baik dilihat dari lebih kecilnya total kesejahteraan yang hilang (dead weight loss). Namun tetap kurang efisien dibanding pasar persaingan sempurna. Ada dua penyebab mengapa pasar persaingan monopolistik tidak dapat lebih efisien dibanding pasar persaingan sempurna.

a) Harga jual Masih Lebih Besar Dari Biaya Marjinal (P>MC)

Karena memiliki daya monopoli, peusahaan dalam pasar persaingan monopolistik mampu membebankan harga jual yang lebih tinggi dari biaya marjinal (P>MC). Namun demikian karena kurva permintaan yang dihadapi sangat elastis, maka slisih harga dan biaya marjinal tidak sebesar dalam perusahaan monopolis.

b) Kapasitas Berlebih (Excess Capacity)

Telah dinyatakan, karena sangat mudahnya perusahaan untuk keluar dan masuk, dalam jangka panjang perusahaan yang beroperasi dalam persaingan monopolistik hanya menikmati laba normal. Keadaan tersebut kita gambarkan kembali dalam bentuk Diaram 10.4 di bawah ini.

Diagram 10.4

Masalah Kapasitas berlebih

Pada perusahaan pasar persaingan monopolistik

RP

MC


AC

D

MR


Kuantitas

Pada saat berada dalam keseimbangan jangka panjang (titk A), perusahaan sebenarnya tidak berproduksi pada tingkat yang paling efisien, sebab titik A bukan titik terendah pada kurva biaya rata-rata (AC). Jika perusahan ingin memproduksi pada AC yang paling rendah, output harus ditambah sampai sejumlah Qb. Tetapi jika output melebihi Qa (output keseimbangan), penambahan output hanya menurunkan laba (bahkan merugi) karena penerimaan marjinal lebih kecil dari biaya marginal (MRexcess capacity).

5. Pengaturan Pasar Persaingan Monopolistik

Ketidakefesienan yang dihasilkan perusahaan yang beroperasi dalam pasar persaingan monopolistik menimbulkan pertanyaan, apakah perlu pengaturan? Jawabannya adalah tidak! Sarkan Hal ini berdasarkan tiga argumen:

a) Daya monopoli yang realtif kecil menyebabkan kesejahteraan yang hilang (dead weight loss) relatif kecil

b) Permintaan yang sangat elastis menyebabkan kelebihan kapasitas produksi relatif kecil

c) Ketidakefesienan yang dihasilkan perusahaan yang beroperasi dalam pasar persaingan monopolistik diimbangi dengan kenimatan konsumen karena beragamnya produk, peningkatan kualitas, dan meningkatnya kebebasan koonsumen dalam memilih output.

PASAR OLIGOPOLI

Struktur pasar atau industri oligopoly (oligopoly) ialah pasar (industri) yang terdiri dari hanya sedikit perusahaan (produsen). Setiap perusahaan memiliki kekuatan (cukup) besar untuk memengaruhi harga pasar. Produk dapat homogeny atau terdiferensiasi. Perilaku setiap perusahaan akan memengaruhi perilaku perusahaan lainnya dalam industry. Dari definisi di atas, kondisi pasar oligopoly mendekati pasar monopoli.

1. Karakteristik Pasar Oligopoli

Dari definisi diatas kita dapat melihat beberapa unsur penting (karakter) pasar oligopoli.

· Hanya sedikit perusahaan dalam industry (few number of firms)

· Produknya homogen atau terdiferensiasi (homogen or differentiated product)

· Kompetisi non harga

a. Hanya Sedikit Perusahaan Dalam Industri

Secara teoritis sulit sekali unuk menetapkan berapa jumlaj perusahaan di dalam pasar, agar dapat dikatakan oligopoly. Namun untuk dasar analisis, biasanya jumlah perusahaan diasumsikan kurang dari sepuluh. Dalam kasus tertentu hanya terdapat dua perusahaan (duopoli). Kekuatan perusahaan-perusahaan dalam industri dapat diukur dengan menghitung rasio konsentrasi (concentration ratio). Rasio kensentrasi menghitung berapa persen output dalam pasar oligopoly dikuasai oleh perusahaan-perusahaan yang dominan (empat sampai dengan delapan perusahaan). Jika ratio konsentrasi empat perusahaan (four firms concentration ratio atau CR4) adalah 60% berarti 60% output dalam industry dikuasai oleh empat perusahaan terbesar. CR4 yang semakin kecil mencerminkan struktur.

b. Produk homogen atau Terdiferensiasi (Homogen or Differetiat Product)

Dilihat dari sifat output yang dihasilkan, pasar oligopoly merupakan peralihan antara persaingan sempurna dengan monopoli. Perbedaan sifat output yang dihasilkan akan memengaruhi perilaku perusahaan dalam upaya mencapai kondisi optimal (laba maksimum). Jika dalam persaingan sempurna perusahaan mengatur jumlah output (output strategy) untuk mengatur tingkat laba, dalam pasar monopoli hanya satu perusahaan yang mampu mengendalikan harga dan output, maka dalam pasar oligopoli bentuk persaingan antar perusahaan ialah persaingan harga (pricing strategy) dan non haraga (non pricing strategy). Contoh pasar oligopoli yang menghasilkan produk differensiasi ialah industry mobil, rokok, film, kamera. Sedangkan yang menghasilkan produk homogen ialah industri baja, pipa peralon, seng dan kertas.

c. Pengambilan keputusan yang saling mempengaruhi (Interdependence Decisions)

Keputusan perusahaan dalam menetukan harga dan jumlah output akan memengaruhi perusahaan lainnya, baik yang sudah ada (existing firms) maupun yang masih di luar industri (potential firms). Karenanya guna menahan perusahaan potensial untuk masuk industri, perusahaan yang sudah ada menempuh strategi menetapkan harga jual terbatas (limiting prices)

Yang membuat perusahaan menikmati laba super normal di bawah tingkat maksimum.

d. Kompetisi Non Harga (Non Pricing Competition)

Dalam upayanya mencapai kondisi optimal, perusahaan tidak hanya bersaing dalam harga, namun juga non harga (non pricing competition). Bentuk-bentuk kompetisi non harga antara lain adalah pelayanan purna jual serta iklan untuk memberikan informasi, membentuk citra yang baik terhadap perusahaan dan merek, serta memengaruhi perilaku konsumen. Keputusan investasi yang akurat diperlukan agar perusahaan dapat berjalan dengan tingkat efisiensi yang sangat tinggi. Tidak tertutup kemungkinan perusahaan melakukan kegiatan intelijen industri untuk memperoleh informasi (mengetahui) keadaan,kekuatan, dan kelemahan pesaing nyata maupun potensial. Informasi-informasi ini sangat dua factor penting agar perusahaan dapat memprediksi reaksi pesaing terhadap setiap keputusan yang diambil.

2. Faktor-faktor Penyebab terbentuknya Pasar Oligopoli

Ada dua factor penting yang menyebabkan terbentuknya pasar Oligopoli

a) Efisiensi Skala Besar

Dalam dunia nyata, perusahaan-perusahaan yang bergerak dalam industri mobil, semen, kertas, pupuk, dan peralatan mesin, umumnya berstruktur oligopoly. Tekhnologi padat modal (capital intensive) yang dibutuhkan dalam proses produksi menyebabkan efisiensi (biaya rata-rata minimum) baru tercapai bila output diproduksi dalamskala sangat besar. Dalam industry mobil,untuk suatu jenis mobi, skala efisiensi baru tercapai jika produksi minimal 50.000 sampai 100.000 unit per tahun. Bila perusahaan memproduksi tiga jenis mobil saja, output minimal seluruhnya antara 200.000-300.000 unit per tahun. Selanjutnya bila biaya produksi per mobil puluhan juta rupiah,dana yang dibutuhkan untuk berproduksi ratusan miliar rupiah per tahun. Jika dihitung dengan biaya investasi awal, maka perusahaan yang ingin memasuki industri mobil harus menyiapkan dana triliunan rupiah.

Keadaan diatas merupaka hambatan untuk masuk (barriers to entry) bagi perusahaan pesaing. Tidak mengherankan jika dalam pasar oligopoly hanya terdapat sedikit produsen.

c) Kompleksitas Manajemenen

Berbeda dengan tiga struktur pasar lainnya (persaingan sempurna, monopoli,dan pasar monopolistik), struktur pasar oligopoli ditandai dengan kompetisi harga dan non harga. Perusahaan juga harus cermat memperhitungkan setiap keputusan agar tidak menimbulkan reaksi yang merugikan dari perusahaan pesaing. Karena dalam industri oligopoli, kemampuan keungan yang besar saja tidak cukup sebagai modal untuk bertahan dalam industri. Perusahaan juga harus mempunyai kemampuan manajemen yang sangat baik agar mampu bertahan dalam struktur industry yang persaingannya lebih kompleks. Tidak banyak perusahaan yang memilki kemampuan tersebut, sehingga dalam pasar oligopoli akhirnya hanya terdapat sedikit produsen.

3. Keseimbangan Oligopolis

Perusahaan yang bergerakdalam pasar oligopoly disebut oligopolis (oligopolist). Sebagai produsen, keseimbangan terjadi bilalaba maksimum tercapai. Analisis keseimbangan oligopoly tidak menekankan dimensi waktu, melainkan kompetisi. Perusahaan seimbang atau tidak bukan saja dilihat dari kemampuan mengatur output dan harga, tetapi juga kemampuan memprediksi prilaku pesaing. Karena itu oligopolies akan mencapai keseimbangan jika perusahaan dapat melakukan apa yang dapay dilakukan dan tidak mempunyai alasan lagi untuk mengubah jumlah output dan harga. Demikian juga dengan para pesaing.

Begitu kompleksnya situasi dalam pasar oligopoly, sehingga para ekonom mengembangkan beberapa modeluntuk menganalisi perilaku oligopolis. Sayangnya, tidak ada satupun model yang dapat diterima secara umum sebagai model terbaik. Dalam Bab ini hanya akan dibahas Model Permintaan Patah ( kinked demand model) dan Model Kepemimpinan harga ( price leadership model).

A. Model Permintaan patah ( Kinked Demand Model )

Model ini dikembangkan oleh P.M Sweezy (1939). Dua pemikiran penting yang dilontarkan Sweezy adalah harga dalam pasar oligopoly bersifat kaku (Inflexible) dan oligopoly mengambil keputusan berdasarkan sikap (Skenario) pesimis (pessimistic way). Permintaan sangat elastis bila harga dinaikka dan inelastis bila harga diturunkan. Pengaruh ciri yang menonjol dalam motif pasar yang berkarakter oligopolistik adanya ketegaran harga (price rigidity)

Konsekusensi dari pemikiran tersebut adalah perusahaan menghadapi dua skenario permintaan. Skenario pertama, sebut saja D1 adalah permintaan dengan asumsi pesaing tidak bereaksi terhadap strategi perusahaan. Permintaan ini sangat elastis. Permintaan kedua, D2 adalah jika pesaing bereaksi terhadap strategi perusahaan. Permintaan ini inelastis, seperti digambarkan Diagram 11.1

Diagram 11.1

Kurva Permintaan Perusahaan Oligopolis

Rp

Kuantitas

Kurva permintaan yang relevan bagi perusahaan adalah ABD2 (garis tidak putus-putus). Sampai batas harga P1, Kurva permintaan yang Relevan adalah AB, karena jika perusahaan menetapkan harga diatasP1, Pesaing tidak bereaksi. Akibatnya bila oligopolies menetapkan kenaikan harga, misalnya 10% (P3), ia akan kehilangan permintaan lebih besar dari 10% (Q1 --- > Q3). Hal ini karena para oligiopolis lainnya tidak ikut menaikkan harga. Sebaliknya jikaoligopolis menetapkan harga dibawah P1, misalnya P2, pesaing bereaksi. Kurva permintaan yang relevan adalah BD2. Bila oligopolies menurunkan harga sebesar 10%, tambahan permintaan yang diperoleh lebih sedikit dari 10%, karena perusahaan-perusahaan lainnya ikut menurunkan harga (bereaksi). Mereka tidak mau konsumennya berpindak ke perusahaan yang tadi menurunkan harga. Kurva permintaan marjinal (MR) yang relevan bagi perusahaaan adalah ACDE. Harga keseimbangan pasar adalah P1.

Pada diagram 11.2, oligopolies berada dalam kesimbangan pada saat MR=MC (titik D) dengan jumlah output Q1. Tetapi perubahan struktur biaya (berubahnya MC) tidak otomatis mempengaruhi harga jual, sebab dapat menimbulkan reaksi pesaing. Jika MC bergeser dintara MC1 sampai MC2 harga tidak berubah. Oligopolies juga tidak akan mengubah jumlah output, sebab sangat merugikan misalnya output dinaikkan ke Q2, pesaing akan bereaksi karena kurva MR yang relevan adalah ACDE. Akibatnya laba menurun kerena MR < MC. Jika oligopolies mengurangi output ke Q3 (harga lebih tinggi dari P1), pesaing tidak bereaksi, sehingga hal ini merugikan, sebab pada produksi Q3, MR > MC, dan laba yang diperoleh berkuranng.

Diagram 11.2

Kesembangan Oligopolis

Rp

MC2

MC1

MR1

D2

Kuantitas

B. Model Kepemimpinan harga (Price Leadership Model)

Dalam Model ini perusahaan yang dominan mengambil inisiatif dalam penentuan harga. Tujuannya adalah untuk meningkatkan laba dengan membentuk koluisi secara implicit (implicit conclusion). Dikatakan kolusi karena perusahaan dominan berharap perusahaan lain mengikutui langkah tersebut. Dikatakan implisit karena kolusi tidak berdasarkan perjanjian formal. Produsen dominan memberikan sinyal harga (price signaling), misalnya dengan menggunakan media masa (konferensi pers). Produsen dominan memliki posisi penentu haraga (price setter)., perusahaan yang lain sebagai penerima harga (price taker). Diagram 11.3 menggambarkan secara grafis. Di Indonesia, semen Tiga Roda (Indocement), dan film Fuji adalah contoh price leader dalam pasar yang oligopolistic.

Diagram 11.3

Model Kepemimpinan Harga Oligopolis

Rp


Sm


Sd

Dd

Dm

Kuantitas

Permintaan pasar adalah Dm yang merupakan permintaan total yang dihadapi setiap perusahaan dalam pasar. Pada saat harga P1, perusahaan dominan tidak berproduksi. Bila harga dibawah P2, permintaan perusahaan dominan identik dengan permintaan industri, karena permintaan terhadap pereusahaan lain sudah tidak ada (nol). Struktur penawaran industri, digambarkan kurva Sm yang merupakan penjumlahan biaya marjinal seluruh perusahaan dalam industri. Sedangkan permintaan perusahaan dominan adalah Dd dengan struktur penawaran Sd. Untuk mencapai laba maksimum perusahaan dominan menyamakan MR dan MC, sehiungga menjula seharga Pd dengan output sejumlah Qd.

Karena posisinya harga sebagai penerima harga, perusahaan-perusahan lain menetapkan jumlah produksi harga yang ditetapkan perusahaan domonan (Pd). Dengan harga jual PD per unit, jumlah Output yang menghasilkan laba maksimum adalah Qs, pada saat Pd = Sm. Jumlah Output yang diproduksi industri adalah Qm = Qs + Qd.

C. Price Leadership dan Kinked Demand Curve

Dalam pembicaraan mengeni oligopoly dijelaskan tentang teori kurva permintaan yang patah (kinked demand Curve) dari rekasi lawan. Seperti telah disinggung, hal itu didasarkan pada asumsi bahwa perusahaan-perusahaan lawan akan mempunyai kecendrungan untuk mengikuti penurunan harga dari perusahaan yang oligopolistic, tapi tidak akn mengikuti bila harga dinaikkan. Sedangkan price leadership merupakan keadaan dimana setiap perusahaan akan mengikuti pemempinnya, baik uintuk harga naik ataupun harga turun. Dengan demikian teori kinked demand curve tidaklah relevan dengan price leadership. Kinked demand curve hanya berlaku bagi penurunan harga. Apbila harga naik setiap perusahaan pun akan mengikuti sebagaimana ketika harga turun, maka hal itu akan menghapuskan “patah” nya kurva permintaan dan dengan demikian teori kinked demand curve tidak ada.

4. Duopoli

Duopoli adalah keadaan khusus dimana dalam pasar oligopoly hanya ada dua perusahaan. Model ini dikembangkan untuk melihat lebih tajam interaksi antar dua perusahaan dalam pasar oligopoli.

1) Model Cournot (Cournot Model)

Model ini dikembangkan oelh Agustin Cournot (ekonom Prancis) tahun 1983. Dasar pengembangan model ini adalah keseimbangan duopolies tercapai bila biaya marjinal adalah nol (MC = 0). Dengan pembuktian matematis, duopolies (apabila masing-masing perusahaan tidak saling berinteraksi) akan mencapai keseimbangan output masing-masing perusahaan adalh separuh jumlah permintaan pada saat harga P=0, seperti digambarkan dalam diagram 11.4

Diagram 11.4

Kondidi Laba Maksimum

Oligopolis Dengan MC = 0

Rp

MR D

Po Qo Kuantitas

Masing-masing doupolis (perusahaan yang beroperasi dalam pasar duopolis) mempunyai daya monopoli yang sama. Keputusan jumlah output yang diprodusi duopolis yang satu (saingannya) sudah diputuskan dan tidak akan berubah.

Misalkan permintaan pasar adalah :

Q = 30 – P------------------------------------------------------------------------ (11.1)

Atau

P= 30 - Q

Dimana : Q = Q1 + Q2

Maka penerimaan total duopolies yang pertama (TR1) dan kedua (TR2) adalah jumlah output yang dijual dikalikkan harga jual.

TR = P x Q1

= (30 – Q) x Q1 = {(30 – (Q1 + Q2)} x Q1

= 30Q1 – Q1 – Q1Q2-------------------------------------------------------- (11.2)

Laba maksimum tercapai bila MR = 0

MR = 30 – 2Q1 – Q2 = 0------------------------------------------------------- (11.3)

Q1 = 15 – ½ Q2 -- -------------------------------------------------------------- (11.4)

Perusahaan (11.4) merupakan kurva reaksi Q1, karena menunjukkan besarnya output yang ditetapkan duopolies pertama brdasarkan perkiraan output duopolies kedua. Dengan cara yang sama kita dapat menurunkan kurva reaksi doupolis kedua (Q2).

Q2 = 15 – ½ Q1 --------------------------------------------------------------------------------------------- (11.5)

Kedua Kurva reaksi dapat digambarkan dalam diagram 11.5 berikut ini :

Diagram 11.5

Model Kesimbangan Cournot

(Cournot Equilibrium Model)

Q2

30

Kurva reaksi Perusahaan I (Q­­1=15 – ½ Q2)

20


Keseimbang Cournot

10

C

Kurva reaksi Perusahaan II

10 20 30 Q1

Kedua Duopolis akan mencapai keseimbangan bila reaksinya sama (Q1 = Q2). Dengan penyelesain matematika sederhana, keseimbangan akan tercapai pada saat Q1 = Q2 = 10 Unit. Jika P = 30 – Q, maka harga keseimbangan adalah 20. Keseimbangan ini disebut keseimbangan Cournot (Cournot Equilibrium) atau titik Cournot (Cournot Point). Dalam diagram 11. 5 keseimbangn titik Cournot terjadi di titik C.

Pada titik Cournot terjadi keseimbangan yang stabil, setiap gerakan menjadi titik itu akan didorong untuk kembali ke titik keseimbangan, dimana masing-masing menghasilkan 1/3 dari output total industry. Model ini dapat dikembangkan untuk lebih dari dua perusahaan yang bersaing. Apabila terdapat n perusahaan dalam industry, maka masing-masing perusahaan akan menghasilkan 1 / (n + 1) dari output total industry, atau secara bersama-sama mereka mengahsilkan sebanyak n / (n + 1) dari Output total industri.

2) Model Kepemimpinan Stackelberg (Stackelberg Leadership Model)

Model Cournot diatas mengasumsikan bahwa keputusan dua perusahaan dilakukan secara bersamaan. Bagaimna jika ada perusahaan yang mengambil inisiatif terlebih dahulu? Siapa yang lebih beruntung? Model Stackelberg mencoba menjawab pertanyaan ini. Jika kasus diatas dikembangkan dengan mengasumsikan bahwa perusahaan pertama mengambil inisiatif, kemudian perusahaan kedua mengikuti, maka :

P = 30 – Q, dimana kurva reaksi perusahaan kedua : Q2 = 15 – ½ Q1, maka untuk mencapai laba maksimum, fungsi penerimaan perusahaan pertama memperhitungkan reaksi perusahaan kedua.

TR1 = {30 - Q1 + Q2} . Q1

= 30Q1 - 1 - Q2Q1

= 30Q1 - 1 – 15Q1 + 1

= 15Q1 - 1

MR1 = = 15Q

Bila laba maksimum tercapai pada saat MR = 0, maka pereusahaan pertama memproduksi sebanyak 15 Unit. Sementara peusahaan kedua berdasarkan kurva reaksinya ( = 15 – ½ Q1) hanya memproduksi sebanyak 7,5 Unit. Jadi menurut model stackelberg, perusahaan yang mengambil inisiatif penentuan harga akan memperoleh laba disbanding perusahaan yang hanya mengikuti (follower).

3) Teori Permintaan (Game Theory)

Teori permintaan (Game Theory) mencoba menjelaskan perilaku perusahaan dalam poasar duopoli secar lebih realistis. Menurut teori ini duopolies tidak selalu menagmbil keputusan secara kompetitif, tetapi juga kerjasama (cooperative). Strategi manapun yang dipilih, dasar pertimbangannya adalah berapa besar hasil yang diperoleh (pay off).

Model Dilema Narapidana (prisoners’ dilemma model)

Model ini menjelaskan bagaimana sikap seseorang mengambil keputusan dalam keadaan tidak dapat berkomunikasi denagn teman atau lawannya. Model dibangun berdasarkan cerita bahwa dua narapidana tertangkap setelah bekerja sama dalam melakukan kejahatan. Hal yang harus dilakukan adalah apakah mereka harus mengakui kejahatannya di depan polisi pemeriksa. Hasil play off yang diperoleh dari setiap keputusan digambarkan dalam matriks berikut ini

Narapidana B

Narapidana A

Mengaku

Tidak Merngaku

Mengaku

-5, -5

-1, -10

Tidak Mengaku

-10, -1

-2, -2

Jika kedua narapidana mengambil keputusan mengaku, setiaporang akan dipenjara 5 tahun. Sebaliknya jika sama-sam tidak mengaku masing-masing akan dipenjara 2 tahun. Bila hanya salah satu yang mengaku, yang tidak akan mengaku akan dipenjara 10 tahun, yang mengaku hanya 1 tahun. Keputusan yang paling menguntungkan adalh bilakeduanya tidak mengaku, karena masing-masing hanya dipenjara 2 tahun. Tetapi mereka tidak mempunyai kemampuan berkomunikasi karena ditahan dalam 2 ruanagan yang terpisah jauh. Khawatir karena yang lain mengakui kesalahan, maka kedua narapidana mengambil keputusan untuk mengaku dan masing-masing menjalani hukuman penjara selama 5 tahun.

Model dilema narapidana dapat diadaptasi untuk menganalisis keputusan masing-masing duopolies dalam menentukan harga jual. Misalnya perusahaan otomotif A adalah pasangan duopolies perusahaan otomotif B. mereka harus mengambil keputusan tentang harga jual mobil mereka. Keputusan dan hasilnya seperti dalam matriks dibawah ini :

Perusahaan Otomotif B

Perusahaan Otomotif A

Harga Mobil Rp.125juta/Unit

Harga Mobil

Rp.150juta/Unit

Harga Mobil Rp.125juta/Unit

15.000, 15.0000

30.000, 12.000

Harga Mobil

Rp.150juta/Unit

5.000, 30.000

25.000, 25.0000

Bila perusahaan A dan B masing-masing menetapka harga Rp. 125 Juta per Unit, setiap perusahaan akan mengambil sebanyak 15. 000 unit mobil. Bila sama-sama menjual dengan harga Rp. 150 Juta per Unit, masing-masing menjual sebanyak 25. 000 unit mobil. Karena berada dalam keadaan dilemma seperti yang dihadapi narapidana dalam contoh diatas, maka keputusan apapun yang ditempuh oleh perusahaan A, perusahaan B menetapkan harga sebesar Rp. 125 Juta per Unit, perusahaan B akan dapat menjual mobil minimal sam denag jumlah penjualan perusahaan A (15.000 unit) jika perusahaan A memutusakan harga sama. Tetapi jika perusahaan A menetapkan harga lebih mahjal, perusahaan B mampu menjula 30.000 unit.

Jika perusahaan B menetapkan harga Rp. 150 juta per unit, kondisinya berbahaya sebab perusahaaan A dapat menjual mobil sebanya 30. 000 unit, sedangkan perusahaan B hanya 5.000 unit seandainya perusahaan A menetapkan harga Rp. 125 juta. Jika anda adalah direktur perusahaan A atau B, apa yang akan anda putuskan.

DAFTAR PUSTAKA

Kadariah, Teori Ekonomi Mikro, edisi revisi. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI, 1994

Rahardjo, Prathama, Teori Ekonomi Mikro Suatu Pengantar, edisi revisi. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI, 2006

Sukirno, Sadono, mikroekonomi, edisi ketiga. Kuala Lumpur:Aneka Punlishing,1993


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar